Pagi itu Jumat (16/4) pukul 09.30 WITA, kami disambut hangat di samping halaman Gereja GMIT Eklesia Mokdale, Kecamatan Daeurendale, Kec. Landuleko, Rote. Kepala Desa Mokdale Yopi Sina, sejumlah pendeta di Gereja GMIT Eklesia Mokdale dan sejumlah jemaat menerima rombongan Ketum PGI Pdt.Gomar Gultom, Ketua PGI. Pdt. Lintje Pelu dan Sekum GMIT Pdt. Yusuf Nakmofa yang berkunjung ke daerah yang terdampak bencana Siklon Seroja, Minggu (4/4) lalu.

Sinar mentari pagi itu cukup cerah sehingga pertemuan di halaman samping gereja terasa sejuk.

Kepada rombongan PGI, Kepala Desa Yopi menyampaikan kondisi ketika bencana itu datang. “Hujan sudah datang sejak Sabtu (3/4) dan juga angin yang cukup kencang, tapi pada Minggu (4/4) itulah angin sangat besar dan air yang juga besar. Ada 15 kepala keluarga yang terdampak langsung siklon itu dan yang menyedihkan lagi bangunan gereja baru kami yang sementara sedang dibangun bagian depannya ambruk sehingga tidak bisa diteruskan  lagi karena harus dibangun ulang,”katanya.

Dalam pertemuan itu pula sejumlah pendeta juga menceritakan kerusakan yang dialami warga jemaatnya dan listrik yang belum kembali normal.

Kepala Desa Yopi juga menambahkan, proses perpindahan gedung gereja lama ke baru akan mengalami kemandekan. “Sementara ini kami akan menunda permindahan gedung gereja kami karena kondisi rusak karena siklon ini. Kami akan terus mengusahakan penyelesaian dari awal lagi,” ujarnya.

Pendeta Mengungsi

Dalam kunjungan berikutnya di gereja GMIT Imanuel Oeledo Klasis Pantai Baru, Rote, Pdt.Diana Sopabamasiweni. Menurutnya ada 178 kepala keluarga yang berdampak namun tidak terlalu berat. “Memang kami tidak terlalu berdampak dan kami bersyukur saat kejadian air laut tidak naik, kalau naik kita semua akan tenggelam,” ujarnya.

Pdt. Diana menambahkan rumah Pastori yang ia tempatkan berada tempat di bibir pantai. “Saat itu kami sudah merasakan hujan dan angin. Jadi sebelum kami ibadah Paskah pagi, rumah Pastori kami atapnya lepas dan air hujan membasahi semua rumah. Lalu kami mengungsi ke tetangga dan berapa lama rumah tetangga itu juga atapnya ada yang lepas tapi masih bisa ditempati. Jadi, pukul 8 pagi saya tetapkan masih di rumah tetangga itu dan kemudian dijemput majelis untuk pimpin ibadah karena sudah ada jemaat yang datang,” ungkapnya.

Kata Pdt.Diana bukan dirinya saja yang harus mengungsi tapi ada beberapa warga jemaat yang ikut mengungsi. “Namun sekarang sudah kembali ke rumah masing-masing karena tak lama setelah reda angin dan hujan kami memperbaikinya. Kami berpikir bahwa derita kami jauh lebih berat dari saudara-saudara kami di tempat lain sehingga kami membantu memperbaiki rumah-tumah uang rusak,” ungkapnya.

Di bagian Selatan Rote menurut Pdt. Tresia Charlotte Ketua Klasis Pantai Baru saat bencana terjadi ada 357 kk yang berdampak dan 1 gedung gereja yang parah dan 3 rusak ringan. “Dan ada 1 keluarga yang masih di tenda karena rumahnya sudah tidak bisa digunakan. Ada memang 4 kk di kampung yang mengungsi di Goa batu. Jadi ceritanya ada kampung Sorimaru yang baru di buka di daerah Selatan kemudian hujan dan angin datang lalu 1 keluarga mengungsi ke keluarga ke 2 dan rumahnya juga hancur. Lalu 2 kk ini mengungsi ke keluarga ke 3 dan rumahnya juga hancur lalu mengungsi ke keluarga ke 4 dan hal yang sama juga terjadi rumah mereka hancur. Akhirnya 4 kk ini mengungsi di sebuah Goa hingga badai reda. Sekarang mereka sementara masih di tenda dan ada yang mengungsi ke rumah keluarga mereka,” ujar Pdt.Tres.

Sumber: PGI/Phil Artha