Saya berkesempatan menemani para mahasiswa yang berkunjung ke GKI Kuningan. Mereka adalah mahasiswa yang menekuni pers kampus dan sedang dalam pelatihan jurnalistik keberagaman. Untuk mengalami apa itu persepsi keberagaman, cara yang dipilih dalam pelatihan ini adalah dengan mengunjungi langsung komunitas beragama di kota Kuningan.Berbekal kaos seragam, dan persahabatan dalam kelompok kecil, saya dan empat rekan mahasiswa malam tadi, berkunjung ke persekutuan remaja di GKI Kuningan. Mereka tengah beracara kebersamaan bertema valentine, suasana remaja yang riang dalam keceriaan, menyambut kami, ketika kami diberi kesempatan untuk menyapa.

Setelah saya perkenalkan dengan singkat tentang kegiatan kami, lalu memberi kesempatan pada keempat teman untuk mengenalkan diri. Kami memperkenalkan diri satu persatu. Teman dari mahasiswa muslim Ahmadiah, ternyata mengaku pertama kali masuk dan bertamu di gereja, dua teman muslim lain, sedang studi agama Islam, dan calon guru bahasa arab, teman terakhir dari mahasiswa Katholik di Jakarta.

Penatua Agus dan penatua Ivan mendampingi kami, dimana sebelum acara menjelaskan, bahwa ini akan menjadi pengalaman menarik bagi remaja dan baik untuk dilakukan. Pak Agus kemudian memandu para remaja untuk bertanya dan menggali keingintahuan mereka. Pertanyaan remaja sangat spontan disampaikan, apa lembaga yang mengatur, apa yang menjadi alasan sehingga bisa hadir di GKI Kuningan.

Keakraban yang hangat, sungguh terasa di ruang pertemuan tersebut. Remaja GKI Kuningan layaknya remaja yang senang bertemu tamu lebih dewasa, namun kali ini beragama muslim. Seorang remaja laki-laki, tergerak bertanya sesuatu yang dipendam dalam benaknya, mengapa kitab Alquran tidak diterjemahkan dalam bahasa Indonesia?

Remaja putri yang lain bercerita ketika di sekolah mereka belajar bahasa Arab dan hafal lagu-lagu Asmaul Husna, lagu tentang nama-nama Allah yang seringkali diperdengarkan di sekolah negeri tempat mereka belajar. Teman yang saya dampingi, adalah seorang calon guru bahasa Arab, dengan santai dan senyum lebar berusaha menjawab dengan sederhana. Saya memperhatikan puluhan remaja GKI Kuningan menyimak jawaban, dan merespon dengan baik.

Persahabatan, menjadi kata kunci dan ternyata menjadi pengalaman yang baru dan menarik. Melalui Pendeta Pramudya Hidayat dan para penatua, empat teman saya berkesempatan mendapatkan senyum dan sambutan yang tak akan terlupakan. Jalinan persahabatan baru saja dimulai, jabat sahabat melintasi usia dan perbedaan. Jalinan itu kini tumbuh menjadi rajutan kebersamaan yang hangat.