Nasi Kehidupan

Akhir pekan kemarin, saya hadir di sebuah komunitas tani yang sangat menghargai bumi pertiwi dan semesta sebagai “persona” yang menghadirkan dan merawat kehidupan. Live in semalam bersama cerita-cerita mereka. Ikut dalam perayaan kebahagiaan mereka di panen perdana tiga kelompok tani di desa Sumber Harapan, Belitang II, OKU Timur, Sumatera Selatan. Ada upacara petik padi yang dihantarkan oleh Mbah Parlan, sesepuh di komunitas itu.
Dari sinilah saya teringat bahwa Gus Dur pernah menulis dalam bukunya tentang tumpen. Beliau mengatakan bahwa nasi tumpeng memiliki fungsi beranekaragam, baik masa lalu maupun masa kekinian. Ada yang memaknai persembahan simbolis dengan sisi magis, baik dengan keyakinan bahwa tumpeng itu benar-benar disentuh oleh roh yang dipercayai maupun keyakinan bahwa itu hanya simbol saja tetapi memiliki magisnya. Pun di jaman kini ada yang “menurunkan” maknanya menjadi “sebuah misteri”. titik.
Di masa kini, nasi tumpeng kebanyakan hadir dalam bentuk simbolis saja tanpa magis dan misteri secara bersamaan. Dia hadir di upacara peresmian tempat, pesta ulang tahun, pesta merayakan hari jadi perkumpulan, dan lain sebagainya. tanpa pemaknaan magis dan sebuah misteri. Hanya ada saja.
Budiman Sujatmiko baru-baru ini menuliskan twit tentang ilmu pengetahuan dan budaya. Beliau mengatakan bahwa “Ilmu pengetahuan bisa kita dapatkan dari mana saja, tetapi budaya hanya lahir dari diri sendiri (kolektif masyarakat)”. Kita yang ada di Indonesia yang jauh dari belahan bumi sebelah barat akan tetap mampu untuk mendapatkan pengetahuan dari dunia barat. Tetapi jika soal budaya, hanya dari mana kita berasal lah dia didapatkan.

Karena luasnya pengetahuan dan beranekaragamnya budaya yang ada di muka bumi ini, bahkan ketika agama-agama besar dunia menyebar hingga kini, kadang benturan-benturan di antara mereka menjadi tak terelakkan. Bahkan kecenderungan yang muncul saat ini adalah tindakan-tindakan saling meniadakan satu sama lain.Memaknai ulang itu adalah jalan paling bijaksana. Apa maknanya bagi diri masing-masing, untuk kemudian saling mengerti. Setiap orang memiliki kebebasan untuk meyakini. Tetapi tidak meyakini bukan berarti tidak menghormati. Ini penting. Tak perlu menghilangkannya atau dibenturkan dengan keyakinan baru yang didapat hanya karena ingin menegasi keberadaan yang lain. Kita tidak bisa mencerabut seseorang dari akar budaya dimana dia tumbuh. Karena budayanya hanya bisa lahir dari dirinya sendiri.

0 Shares:
Leave a Reply

Your email address will not be published.

You May Also Like