Kepemimpinan Kristiani yang Baru

Sidang gerejawi di suatu wilayah telah usai. Salah satu materi yang dibahas adalah konflik dalam gereja. Konflik dalam kehidupan bersama, juga di gereja, bukanlah hal baru. Sejarah telah menunjukkan bahwa ketika kelompok menjadi semakin besar muncullah salah paham dan konflik. Sejak dahulu para pemimpin, juga di gereja, dalam menghadapi konflik digoda oleh keinginan untuk menjadi relevan, hebat dan berhasil. Sedangkan bersama Yesus ada kemungkinan lain, kepemimpinan yang baru, yang tidak harus jatuh dalam godaan itu.

Pencobaan Yesus yang pertama adalah menjadi relevan, hebat dan berhasil, yakni mengubah batu menjadi roti. Betapa sering kita bermimpi untuk dapat melakukan hal ini. Bukankah para pelayan gereja dipanggil untuk membantu sesama, memberi makan kepada yang lapar dan menyelamatkan orang-orang yang kelaparan? Bukankah kita dipanggil untuk melakukan sesuatu yang membuat orang menyadari bahwa yang kita lakukan membuahkan perubahan dalam hidup mereka? Tidakkah kita dipanggil untuk menyembuhkan yang sakit, dan meringankan penderitaan orang miskin? Tidakkah panggilan untuk membantu mengatasi konflik adalah kebutuhan yang relevan?

Yesus dahulu dihadapkan pada pertanyaan-pertanyaan seperti itu. Akan tetapi, setiap kali ditantang untuk membuktikan kekuasaan-Nya sebagai Anak Allah dengan karya-karya ajaib yang dapat mengubah batu menjadi roti, Ia menolak-Nya dan mempertahankan perutusan-Nya untuk mewartakan Sabda dan berkata, ”Manusia hidup bukan dari roti saja, tetapi dari setiap firman yang keluar dari mulut Allah.”          

Salah satu penderitaan paling besar yang dialami para pelayan gereja adalah rasa rendah diri. Banyak pelayan gereja yang semakin melihat bahwa dirinya hanya mempunyai pengaruh yang sangat kecil. Mereka sangat sibuk, tetapi tidak melihat perubahan yang memadai. Tampaknya usaha mereka sama sekali tidak berhasil. Mereka melihat bahwa para psikolog, psikiater, penasihat keluarga dan dokter dengan kompetensinya lebih dipercaya daripada mereka. Tampaknya yang dibutuhkan dunia adalah solusi-solusi praktis yang relevan, tidak butuh lagi jawaban rohani.

Rasa rendah diri itu bisa menjadikan pemimpin-pemimpin gereja merasa semakin tidak penting lagi dan terdesak ke pinggiran. Banyak yang mulai ragu-ragu dan bertanya untuk apa mereka bertahan dalam pelayanan itu? Sering kali mereka pergi, meninggalkan tugas dan mengembangkan kompetensi baru, lalu menggabungkan diri dengan orang lain dalam usaha mereka untuk memberikan sumbangan yang relevan demi dunia yang lebih baik.

Bisa jadi saat menghadapi konflik, yang dicita-citakan banyak orang adalah solusi yang relevan, efisien dan terkontrol. Solusi seperti itu bisa saja terkesan segera ada hasilnya. Namun, bisa jadi menyisakan rasa putus asa tersembunyi yang mendalam. Ada perasaan kesepian, keterasingan, tidak adanya persahabatan dan keakraban. Ada hubungan yang terputus, kebosanan, perasaan kosong dan depresi, perasaan tak berarti. Semua itu bisa merasuki dan memenuhi hati banyak orang yang hidup dengan orientasi keberhasilan.                

Di sinilah perlunya kepemimpinan kristiani yang baru, yang tidak hanya berorientasi keberhasilan.  Tetapi, pemimpin yang berani menampilkan diri sebagai yang tidak relevan di dunia ini dan memilih hidup seperti itu sebagai panggilan ilahi, yang memungkinkannya untuk masuk ke dalam kesetiakawanan yang mendalam dengan orang-orang yang mengalami kecemasan di balik gemerlapnya keberhasilan, dan membawa cahaya Yesus di dalamnya.

Pemimpin kristiani dipanggil untuk sungguh-sungguh mengenal hati Allah yang telah menjadi manusia dalam diri Yesus. Sebuah hati dari daging. Mengenal hati Allah berarti dengan teguh dan mendasar dan nyata mewartakan dan menyatakan bahwa Allah adalah kasih dan hanya kasih saja. Rasa takut, terasing, dan putus asa yang tiap-tiap kali datang merasuki manusia, tidak berasal dari Allah. Kedengarannya ini sangat sederhana dan mungkin juga usang, tetapi sebetulnya hanya sedikit orang saja yang tahu bahwa dirinya dicintai tanpa syarat dan tanpa batas. Kasih yang tanpa syarat dan tanpa batas inilah yang oleh penginjil Yohanes disebut cinta pertama Allah. Ia menulis, ”Kita mengasihi, karena Allah lebih dahulu mengasihi kita” (1Yoh. 4:19).

Cinta yang sering kali membuat kita ragu-ragu, kecewa, marah dan dendam adalah cinta kedua, yaitu dukungan, afeksi, simpati dan peneguhan yang kita terima dari orang tua, guru, suami atau istri dan kawan-kawan kita. Kita semua tahu betapa terbatas dan ringkih kasih atau cinta kedua itu. Di balik berbagai ungkapan cinta kedua ini, selalu ada kemungkinan penolakan, hukuman, paksaan, kekerasan bahkan kebencian.

Inti kabar gembira adalah cinta kedua hanyalah cermin rusak atau bayang-bayang dari cinta pertama dan bahwa cinta pertama yang ditawarkan kepada kita oleh Allah, tidak ada bayang-bayangnya.  Hati Yesus adalah penjelmaan cinta pertama Allah yang tanpa bayang-bayang. Dari hati yang seperti inilah muncul kata-kata, ”Apakah Engkau mengasihi Aku?”

Mengenal hati Yesus dan mengasihi Dia adalah hal yang sama. Pengenalan akan hati Yesus adalah pengenalan dari hati. Dan kalau kita hidup di dunia dengan pengenalan ini, kita tidak dapat bertindak lain kecuali membawa penyembuhan, perdamaian, hidup baru dan harapan, ke mana pun kita pergi. Keinginan untuk menjadi relevan, hebat dan berhasil sedikit demi-sedikit akan hilang, dan satu-satunya keinginan kita adalah mengatakan dengan segenap diri kita kepada sesama kita manusia, ”Engkau dicintai. Tidak ada alasan untuk takut. Allah menciptakan jati dirimu dalam kasih dan menenunmu dalam kandungan ibumu” (bdk. Mzm 139:13).

Mengacu pendapat Henri Nouwen, agar dapat menghayati hidup yang tidak dikuasai keinginan untuk menjadi relevan melainkan hidup yang tertambat pada pengenalan akan cinta pertama Allah, kita harus menjadi orang-orang mistik. Menurut Marta E. Driscol, mistik kristiani adalah pertemuan pribadi dengan Allah melalui Yesus Kristus dan gereja-Nya. Mistik kristiani bukan buah dari usaha manusia melainkan anugerah kasih yang berdasarkan wahyu-inisiatif Allah sendiri. Mistik kristiani tidak dibatasi kepada orang-orang tertentu yang hebat, melainkan terbuka bagi semua sebagai pengalaman iman, melalui proses membatinkan Misteri yang diwahyukan dan dihadirkan dalam Yesus Kristus.

Kedua pendapat guru rohani itu meneguhkan keyakinan Karl Rahner, salah satu teolog besar abad ke-20. Rahner pernah berkata: ”Orang kristiani di masa depan akan menjadi seorang mistikus (yaitu, ia akan mengalami sesuatu) atau tidak akan menjadi orang kristiani sama sekali.”

Seorang mistikus adalah pribadi yang jati dirinya berakar dalam cinta pertama Allah. Agar para pemimpin kristiani di masa depan sungguh menghasilkan buah yang berlimpah, perlu bergerak dari kepemimpinan moral yang sering disertai perdebatan mengenai benar atau salah menuju kepemimpinan mistik.

Tyas Budi Legowo | Pewarta Kabar Baik

Foto: Unsplash/Priscilla Du Preez

Sumber: Kepemimpinan Kristiani yang Baru